Senin, 28 Juli 2014

Belajar Jujur Dari Semut

Belajar Jujur dari Semut

“Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari’.” (An-Naml [27]: 18)
Ayat di atas menerangkan, semut memiliki seorang pemimpin yang punya kepedulian sosial tinggi untuk menyelamatkan rakyatnya dari bahaya. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri ketika ada bahaya mendekati koloninya.
Ayat tersebut juga menjelaskan, hewan ini memiliki ketajaman indera dan sikapnya yang sangat hati-hati, terutama terhadap bahaya. Tidak hanya itu, etos kerjanya juga sangat tinggi. Dengan kesabaran dan kekompakannya, mereka bisa membangun sarang yang besar dan kuat sebagai tempat perlindungan dari mara bahaya. Ini mereka lakukan sepanjang hari dan malam, kecuali malam-malam gelap saat bulan tidak memancarkan sinarnya.
Solidaritas yang terbangun dalam koloni ini juga tinggi. Bila salah satu dari mereka menemukan makanan, ia akan minta tolong teman-temannya membawa makanan tersebut ke sarangnya. Bahkan menurut Ibnul Qayyim dalam kitabnya Syifa’ul ‘Alil fii Masa’il al-Qodho’ wal Qodar wal Hikmah wat Ta’lil, ia memanggil teman-temannya hingga tiga kali. Jumlah semut yang berkumpul bergantung pada besar dan kualitas makanan tersebut.
Bila makanan itu berupa biji-bijian, mereka akan memecah belah. Mutawalli Sya’rawi dalam tafsirnya menulis, “Ini merupakan suatu keajaiban dimana Anda akan menemukan dalam sarang semut beberapa biji-bijian yang telah terbelah-belah agar tidak tumbuh. Para ilmuwan menemukan ada satu biji yang dibelah empat yaitu biji ketumbar. Kalau biji ketumbar ini dibelah dua, maka setiap bagian masih bisa tumbuh, akan tetapi semut-semut tersebut membelah biji ketumbar menjadi empat bagian agar tidak bisa tumbuh. Karena jika biji tersebut tumbuh, ia akan menutup sarang mereka. Oleh sebab itulah, semut menyimpan biji-bijian tersebut sampai mereka bisa memakannya pada saat musim dingin tiba. Maha Suci Allah yang telah memberikan pengetahuan ini pada semut-semut tersebut,” (Tafsir Sya’rawi tentang surat An-Naml: 18 )
Bila makanan sudah didapat, mereka akan membaginya secara adil sesuai dengan fungsi masing-masing. Menariknya, mereka bekerja secara sistematis dalam menyelesaikan masalah. Dengan kemurahan hati, mereka tidak pernah berebut dan merasa yang paling berhak dibanding lainnya.
Ketika Ibnu Taimiyah mendapat cerita dari Ibnu Qoyyim mengenai kehidupan semut, ia berkata, “Sesungguhnya semut diciptakan Allah dengan watak jujur dan mencela kebohongan.” (Kitab Syifa’ul ‘Alil)
Bahkan dalam sebuah Hadits disebutkan, koloni hewan ini juga merupakan umat yang selalu bertasbih kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada semut yang menggigit seorang Nabi dari Nabi-nabi terdahulu, lalu Nabi itu memerintahkan agar membakar sarang semut-semut itu. Maka kemudian Allah mewahyukan kepadanya, firman-Nya: “Hanya karena gigitan seekor semut, maka kamu telah membakar suatu kaum yang bertasbih”.(Riwayat Bukhari)
Semoga kita bisa belajar dari kejujuran semut.* Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah JUNI 2011


Sumber : http://majalah.hidayatullah.com/?p=2636

Bahasa Semut

Oleh: Abduddaim al-Kahil

Profesor Robert Hickling sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti serangga dan merekam getaran-getaran bunyi yang mereka lepaskan. Namun, bahan-bahan yang diperoleh tidak bisa dinyatakan hingga ia mampu merekam bunyi-bunyi yang berasal dari semut. Ia bermaksud meneliti semut di sarangnya. Mereka tidak menemukan metoda yang lebih baik daripada mengikuti bunyi-bunyi semut.
Bagaimanapun, hal yang mengejutkan ilmuwan itu adalah bahwa frekwensi bunyi-bunyi yang dilepaskan semut-semut itu bervariasi dari satu semut dengan semut lain, dan dari jenis semut yang satu dengan jenis semut yang lain. Ada dua belas ribu spesis dalam dunia semut di muka bumi, melebihi ras manusia. Di hadapan jumlah yang luar biasa ini para peneliti bingung mengenai bagaimana mereka mencocokkan semua bunyi tersebut.
Beraneka bunyi semut bisa direkam dengan sukses, dan bagian-bagian dari riset ini diterbitkan di majalan Journal of Sound and Vibration tahun 2006, dan itu adalah pertama kali manusia dapat mendengar suara semut yang sebenarnya!
Peneliti ini menerbitkan banyak riset dan yang paling penting adalah tentang komunikasi antar semut dengan judul ‘Analisis Komunikasi Akustik Oleh Semut’ di Journal of Acoustical Society of Amarican Magazine.
Peneliti-peneliti ini menunjukkan bahwa semut-semut melebihi kita dalam komunikasi akustik. Para ilmuwan mengharapkan bahwa semut menggunakan antena-antena untuk mengirim dan menerima getaran suara. Semut memperkuat isyarat-isyarat suara yang diterima seperti yang alat-alat penerima yang canggih.
Lebih dari itu, semut-semut itu bisa menghilangkan bunyi-bunyi yang melebihi batas, sehingga hal tersebut menjadi filtrasi atau klarifikasi terhadap bunyi untuk mencirikannya dari yang lain. Ini merupakan sistem komunikasi yang sangat maju, yang selama ini tidak dikenal para ilmuwan, dan mereka baru menemukannya beberapa tahun yang lalu. Namun al-Qur’an al-Karim telah menyinggung hal tersebut dan mengatakan kepada kita bahwa semut-semut itu berbicara.
Allah berfirman, ‘Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ (an-Naml: 18)
Di dalam ayat ini, ada suatu bukti yang jelas bahwa semut-semut mempunyai suatu bahasa untuk memahami satu sama lain, dan Allah mengaruniai Sulaiman kemampuan untuk mendengar dan memahami suara-suara mereka. Para ilmuwan berusaha untuk menangkap isyarat-isyarat akustik yang diucapkan semut-semut. Namun, mereka membedakan empat macam bunyi setelah melakukan pengamatan selama bertahun-tahun.

Gambar: Semut menggunakan sinyal akustik tertentu yang dilepaskanya saat marah. Seekor semut memberi peringatan, lalu ia mengeluarkan panggilan yang bisa diterima, dipahami, dan direspon kawannya dengan segera. Untuk mendengarkan suara semut yang sedang memberi peringatan kepada kawannya, silakan klik di sini.
Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia. Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!

Ini adalah suara semut dalam keadaan normal dan saat bekerja, memindahkan sesuatu, dan mengumpulkan makanan. (klik di sini)
Ketika semut menyerang seekor ulat, maka ia mengeluarkan suara yang menakutkan. Suara-suara tersebut benar-benar tidak bisa dipahami, dan mereka melakukan pertemuan seperti manusia.

Dengarkan suara seekor semut saat menyerang seekor ulat. .( klik di sini)
Phil De Vries menemukan bahwa serangga melepaskan getaran-getaran suara lemah yang dapat dibedakan oleh semut. Kumbang penghisap mengeluarkan zat yang mengandung gula yang disukai semut. Serangga ini mengeluarkan getaran selama ia bekerja, sehingga semut sering kali terjebak sebagai mangsanya. Getaran-getaran akustik itu merupakan alat komunikasi di antara serangga.
Allah berfirman, ‘Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.’ (al-Isra’: 44)
Robert Hickling, salah seorang peneliti terkemuka mengatakan, ‘Semut-semut tidak bereaksi terhadap suara manusi dan tidak terpengaruh olehnya. Tetapi jika kita mengarahkan kepadanya getaran-getaran yang sesuai, maka semut terpengaruh olehnya dan meresponnya. Ini berarti bahwa semut-semut mempunyai bahasa sendiri dan mereka sepenuhnya seperti manusia. Di sini kita ingat akan firman Allah, ‘Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.’ (an-Naml: 38)
Karenanya kita menyadari bahwa al-Qur’an al-Karim itu sejalan dengan ilmu pengetahuan modern.

Sumber : http://www.eramuslim.com/peradaban/quran-sunnah/bahasa-semut.htm#.U9aYW5zZYbc

Kamis, 17 Juli 2014

Saling ketergantungan antara semut dan pohon-pohon

Saling ketergantungan antara semut dan pohon-pohon

 
 “ dan tidak ada suatu binatang melata[1] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi….
Sebuah tanaman aneh terdapat di dunia flora. Tanaman ini takut terhadap serangga tertentu yang dikenal dengan “serangga pemakan tanaman”. Lalu apa yang dilakukan tanaman ini? Apakah Allah membiarkan ciptaan-Nya ini menanggung risiko?
 
Allah telah membekali tanaman ini dengan saluran khusus yang mengeluar-kan materi lezat yang sangat disukai semut. Serangga kecil ini berduyun-duyun menghampiri tanaman ini untuk bersantap. Sebagai imbalannya, para serangga kecil ini menjadi penjaga tanaman ini dari serangan serangga-serangga pemakan tanaman.
 
 Maha Suci Allah, Rabb alam semesta. Engkau tidak pernah membiarkan ciptaan-Nya tanpa memperoleh rahmat kasih sayang-Mu. Adakah di antara kita yang masih meragukan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ini berkuasa memberikan rizki kepada manusia yang mengucapkan لا إله إلا الله (tidak ada Tuhan selain Allah)? Allah berfirman:
(وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ) [هود: 6].
“ dan tidak ada suatu binatang melata[1] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[2]. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
 
[1] Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[2] Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

--------------------
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

SEMUT DAN MATA PENCAHARIAN

SEMUT DAN MATA PENCAHARIAN

Semut dapat membawa benda seberat dua puluh kali berat tubuhnya  ….


Semut dapat membawa benda seberat dua puluh kali berat tubuhnya. Bayangkan,  jika seorang lelaki memiliki kekuatan seperti itu, ia akan sanggup mengangkat mobil seberat satu ton dengan mudah. Bandingkan antara kekuatan seekor semut dengan kekuatan Anda! Hasilnya, semut mempunyai kekuatan sedikitnya dua puluh kali lipat dari kekuatan Anda. Subhanallah, Mahasuci Allah, bagaimana seekor serangga kecil bisa seperti itu? Kekuatan apa yang digunakannya? Siapa yang membantunya untuk mengangkat makanan yang menjadi rizkinya itu? Bukankah Dia adalah Allah yang berfirman:
(وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ) [العنكبوت: 60]
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” Al-`Ankabut 60.
Apakah Allah Tuhan Yang Maha Agung ini masih diragukan kemampuan-Nya dalam memberi rezeki kepada manusia yang mengucapkan  لا إله إلا الله ‘tiada ada tuhan selain Allah”?

--------------------
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

Rahasia alam dan makhluk 4

Rahasia alam dan makhluk 4

Para ilmuwan menemukan bahwa lebah menggunakan sinar ultra-violet untuk melihat,  ….

16 – Mata Lebah

Para ilmuwan menemukan bahwa lebah menggunakan sinar ultra-violet untuk melihat, bahwa mereka tidak melihat kecuali gambar yang statis, karena kecepatan penglihatan mereka lebih besar dari manusia, dan mata lebah terdiri dari ribuan lensa kecil, para ilmuwan telah menemukan bahwa desain ini membantu
lebah pada penglihatan di hutan-hutan untuk menghindari tabrakan pada saat terbang, terutama ketika terbang melalui kerumunan lebah. Dan para ilmuwan materialis merasa kagum bagaimana lebah mampu mengembangkan proses penglihatan miliknya, padahal diketahui bahwa otaknya mengandung ratusan juta sel saja, dan ukuran otak tidak lebih besar dari ukuran sebuah kepala peniti. Dialah Allah SWT yang berfirman:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak Padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu”. (Al-An’am:101)

17 - Keajaiban Lebah

Para ilmuwan kagum dengan keajaiban lebah: bagaimana lebah belajar melakukan berbagai kerja yang terorganisir dan sehingga mampu memproduksi madu, mereka berkata, setidaknya lebah harus
memiliki program dan informasi khusus di otaknya sebelum mereka membuat, dari sini kita menyadari mengapa Allah SWT berfirman:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". (An-Nahl:68)
Karena itulah para ilmuwan mengatakan bahwa otak lebah diprogram untuk melakukan tugasnya. Subhanallah!

18 - Kodok memprediksi gempa 

Para ilmuwan mengatakan bahwa kodok-kodok kecil berkumpul di wilayah yang aman jauh dari tempat gempa. Bahwa katak ini kita menganggapnya tidak masuk akal diberikan oleh Allah berupa kemampuan untuk membedakan frekuensi rendah yang terkait khusus dengan gempa bumi, dan frekuensi ini tidak bias dirasakan dan diduga oleh manusia sedikitpun, namun katak mampu membedakannya. Karena itulah marilah merenungkan akan kekuasaan Allah terhadap makhluk-makhluk-Nya yang lemah!  Dan marilah juga merenungkan bahwa makhluk-makhluk ini mampu ditundukkan oleh manusia juga, untuk belajar darinya, dan di sinilah Allah SWT berfirman:
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Jaatsiyah: 13).

19 – Hewan-hewan memprediksi bencana alam 

Ketika tsunami menghantam pantai Indonesia pada tahun 2004 dan telah membinasakan ratusan ribu jiwa, sebelum terjadi kejadian ini ada anjing kecil melarikan diri dari daerah itu dan gajah-gajah yang ada di kebun binatang tetangga mengeluh, berteriak dan gemetar, para ulama menafsirkan bahwa fenomena ini merupakan tanda bahwa tanah yang dikeluarkan berdasarkan getaran suara pada luas kurang dari 20 Hz (yakni, kurang dari 20 frekuensi per detik), dan hal tersebut terjadi sebelum gempa bumi dan goncangan, dan juga sebelum tsunami.
Dan yang menakjubkan lagi adalah bahwa beberapa hewan menampakkan adanya getaran tanah yang sama sekali tidak mampu diungkap oleh alat Instrumentasi untuk deteksi! Karena itu para ilmuwan banyak menggunakan beberapa hewan dan menempatkan mereka di tempat-tempat tertentu untuk memprediksi bencana alam, dan Subhanallah yang telah menundukkan
makhluk-makhluk ini kepada kita dan berfirman:
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Jaatsiyah: 13).

20 – Hewan-hewan berdusta
Apakah mungkin hewan-hewan menipu, berbohong, dan berdusta seperti dunia manusia? Inilah yang ingin diungkapkan pada penelitian ilmiyah ini, bahwa para peneliti di Departemen Biologi
University of Potsdam, Jerman menegaskan bahwa berdusta juga menyebar luas dalam dunia hewan dan bahkan dalam lingkup yang besar bertolak belakang dengan kepercayaan yang tersebar, para tim peneliti ini telah mencapai kesimpulannya bahwa dusta dan bohong tidak hanya terbatas kepada dunia manusia, monyet dan burung-burung saja, namun juga tersebar ke dunia ikan! Di sini kita ingat akan firman Allah:
Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. (Al-An’am:38)
Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa dunia hewan dan burung menyerupai dunia manusia dan telah terbukti secara ilmiah akan mukjizat Al-Qur’an yang mulia ini.
--------------------
Oleh: Abduldaem Al-Kaheel